Teks eksposisi dampak media sosial bagi para remaja
Dampak Media Sosial Bagi Para Remaja Sangat Mengkhawatirkan
Perkembangan Internet di Indonesia semakin berkembang pesat dengan adanya berbagai macam sarana atau wadah untuk terhubung ke internet seperti adanya ponsel, laptop dan modem serta jaringan wifi. Minat masyarakat Indonesia khususnya remaja dalam memanfaatkan internet ini pun semakin berkembang, baik dengan menggunakan ponsel maupun komputer. Adapun pengertian media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein, media sosial adalah "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content". Adapun fungsi media sosial yaitu media yang didesain untuk memperluas interaksi sosial manusia dengan menggunakan internet dan teknologi web.
Media sosial seakan sudah menjadi candu bagi masyarakat Indonesia khususnya kalangan remaja. Remaja masa kini identik dengan smartphone ditangan hampir 24 jam. Media sosial yang paling sering digunakan oleh kalangan remaja seperti facebook, twitter, path, youtube, Instagram, line, dan bbm. Media sosial tersebut mempunyai keunggulan dan ketertarikan sendiri bagi penggunanya. Media sosial sangat banyak menawarkan kemudahan yang membuat remaja betah berlama-lama dalam menggunakannya. Menurut Crish Garret media sosial adalah alat, jasa dan komunikasi yang memfasilitasi hubungan antara orang dengan satu sama lain dan memiliki peminat yang banyak tidak terkecuali para remaja, bahkan usia dibawah umur sudah memiliki akun media sosial pribadi.
Di Indonesia tidak sedikit remaja yang sudah kecanduan sosial media, bahkan parahnya, banyak juga dari mereka yang lebih mementingkan kehidupannya di dunia virtual sosial media daripada kehidupan nyatanya. Mereka membuat pencitraan sebagus mungkin di media sosial sesuai dengan image yang mereka inginkan. Hal ini tentunya membuat banyak anak muda yang mempunyai kepribadian palsu di kehidupan nyata. Karena di media sosial mereka bisa membuat image apapapun sesuai dengan yang mereka mau, biasanya mereka cenderung mengutamakan kehidupan mereka di sosial media sehingga kehidupan nyata mereka menjadi di nomor duakan. Hal ini dapat menyebabkan mereka kehilangan jati diri mereka di dunia nyata. Dan juga menyebabkan hilangnya moral para remaja karena mereka lebih mengutamakan kehidupan mereka di media sosial daripada di dunia nyata sehinga mereka akan melakukan apapun agar terlihat keren di media sosial.
Salah satu dampak negatif dari media sosial di kalangan remaja lainnya yaitu remaja kehilangan kemampuan komunikasinya secara langsung. Remaja umum-nya sudah mempunyai gadget untuk mendukung kehidupan nya sehari-hari. Mereka cenderung bergantung pada media sosial untuk berkomunikasi dibandingkan berkomunikasi secara langsung. Karena mereka dengan mudah nya berkomunikasi lewat media sosial, biasanya mereka cenderung jarang berkomunikasi secara langsung dengan orang-orang terdekat nya, seperti kata pepatah "Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat". Hal ini menyebabkan pergaulan para remaja juga semakin bebas tak terkendali dan para remaja menjadi tidak percaya diri. Karena di media sosial, mereka tidak berinteraksi secara langsung, biasanya mereka menjadi lebih percaya diri dan terbiasa dengan interaksi secara tidak langsung, sehingga apabila suatu saat mereka harus dihadapkan dimana mereka harus berkomunikasi secara langsung, mereka menjadi cenderung tidak nyaman serta sulit berbaur dan beradaptasi.
Media sosial juga membuat para remaja menjadi kecanduan dan malas untuk berpikir. Hasil penelitian dari Univeristy of Waterloo juga mengungkapkan bahwa keberadaan Internet (media social) malah membuat manusia meragukan pengetahuan yang dimiliki serta ingatannya sendiri, yang kemudian memberikan dorongan kepada seseorang untuk melakukan pengecekan kembali melalui Internet. Alhasil, otak menjadi malas 'bekerja' untuk mengingat sesuatu. Kepercayaan manusia secara berlebih terhadap Internet ini juga malah menimbulkan suatu 'penyakit baru' yang disebut amnesia digital. seseorang malas mengingat sesuatu karena merasa segala sesuatu sudah tersimpan dalam perangkat elektronik. Sebagai contoh anak- anak sekolah tida perlu lagi mengingat table periodik beserta singkatannya karena sudah tersedia di google. Contoh lainnya yaitu kini orang tidak perlu lagi menghafal tanggal ulang tahun teman-teman karena sudah ada di kalender ponsel.
Dampak lainnya penggunaan media social yaitu kebanyakan para remaja bila sudah menggunakan media sosial tidak mengetahui waktu, mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggunakannya. Hal tersebut menyebabkan waktu yang dimiliki para remaja lebih banyak tersita untuk bermain di media social. Waktu yang seharusnya dimanfaatkan dengan baik menjadi terbuang secara percuma atau sia-sia karena lebih banyak digunakan untuk bermain di social media daripada di manfaatkan dalam dunia nyata. Sebuah riset menemukan bahwa penggunaan media sosial di kalangan remaja meningkat dari rata-rata 1-2 jam sehari antara tahun 2006-2016. "Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, remaja di tahun 2010-an menghabiskan lebih banyak waktu online dan lebih sedikit waktu dengan media tradisional, seperti buku, majalah dan televisi," ujar peneliti utama Dr Jean Twenge dari San Diego State University. Twenge menambahkan, media digital telah menggantikan waktu yang biasanya dihabiskan dengan membaca buku atau menonton TV. Para peneliti lantas mengungkapkan kekhawatiran menurunnya angka membaca di kalangan remaja akan memengaruhi performa mereka di sekolah, karena kurangnya konsentrasi mereka untuk memahami buku teks.
Media sosial tidak akan terlepas dari pengaruh positif maupun negatifnya, dampak itu tergantung dari sisi penggunanya sendiri. Walaupun masa remaja merupakan masa yang dapat dikatakan sangat kritis karena memasuki masa pencarian transisi pencarian jati diri. Namun remaja juga bisa membatasi diri sendiri dengan norma dan moral yang baik. Pembentukan karakter sejak dini termasuk saat remaja sangatlah penting bagi masa depan diri remaja itu sendiri dan lebih luas lagi bagi masa depan bangsa. Remaja sebagai penerus bangsa yang memiliki karakter yang baik, kuat, dan tangguh tentunya akan bisa membuat negara ini maju.
Perkembangan Internet di Indonesia semakin berkembang pesat dengan adanya berbagai macam sarana atau wadah untuk terhubung ke internet seperti adanya ponsel, laptop dan modem serta jaringan wifi. Minat masyarakat Indonesia khususnya remaja dalam memanfaatkan internet ini pun semakin berkembang, baik dengan menggunakan ponsel maupun komputer. Adapun pengertian media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein, media sosial adalah "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content". Adapun fungsi media sosial yaitu media yang didesain untuk memperluas interaksi sosial manusia dengan menggunakan internet dan teknologi web.
Media sosial seakan sudah menjadi candu bagi masyarakat Indonesia khususnya kalangan remaja. Remaja masa kini identik dengan smartphone ditangan hampir 24 jam. Media sosial yang paling sering digunakan oleh kalangan remaja seperti facebook, twitter, path, youtube, Instagram, line, dan bbm. Media sosial tersebut mempunyai keunggulan dan ketertarikan sendiri bagi penggunanya. Media sosial sangat banyak menawarkan kemudahan yang membuat remaja betah berlama-lama dalam menggunakannya. Menurut Crish Garret media sosial adalah alat, jasa dan komunikasi yang memfasilitasi hubungan antara orang dengan satu sama lain dan memiliki peminat yang banyak tidak terkecuali para remaja, bahkan usia dibawah umur sudah memiliki akun media sosial pribadi.
Di Indonesia tidak sedikit remaja yang sudah kecanduan sosial media, bahkan parahnya, banyak juga dari mereka yang lebih mementingkan kehidupannya di dunia virtual sosial media daripada kehidupan nyatanya. Mereka membuat pencitraan sebagus mungkin di media sosial sesuai dengan image yang mereka inginkan. Hal ini tentunya membuat banyak anak muda yang mempunyai kepribadian palsu di kehidupan nyata. Karena di media sosial mereka bisa membuat image apapapun sesuai dengan yang mereka mau, biasanya mereka cenderung mengutamakan kehidupan mereka di sosial media sehingga kehidupan nyata mereka menjadi di nomor duakan. Hal ini dapat menyebabkan mereka kehilangan jati diri mereka di dunia nyata. Dan juga menyebabkan hilangnya moral para remaja karena mereka lebih mengutamakan kehidupan mereka di media sosial daripada di dunia nyata sehinga mereka akan melakukan apapun agar terlihat keren di media sosial.
Salah satu dampak negatif dari media sosial di kalangan remaja lainnya yaitu remaja kehilangan kemampuan komunikasinya secara langsung. Remaja umum-nya sudah mempunyai gadget untuk mendukung kehidupan nya sehari-hari. Mereka cenderung bergantung pada media sosial untuk berkomunikasi dibandingkan berkomunikasi secara langsung. Karena mereka dengan mudah nya berkomunikasi lewat media sosial, biasanya mereka cenderung jarang berkomunikasi secara langsung dengan orang-orang terdekat nya, seperti kata pepatah "Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat". Hal ini menyebabkan pergaulan para remaja juga semakin bebas tak terkendali dan para remaja menjadi tidak percaya diri. Karena di media sosial, mereka tidak berinteraksi secara langsung, biasanya mereka menjadi lebih percaya diri dan terbiasa dengan interaksi secara tidak langsung, sehingga apabila suatu saat mereka harus dihadapkan dimana mereka harus berkomunikasi secara langsung, mereka menjadi cenderung tidak nyaman serta sulit berbaur dan beradaptasi.
Media sosial juga membuat para remaja menjadi kecanduan dan malas untuk berpikir. Hasil penelitian dari Univeristy of Waterloo juga mengungkapkan bahwa keberadaan Internet (media social) malah membuat manusia meragukan pengetahuan yang dimiliki serta ingatannya sendiri, yang kemudian memberikan dorongan kepada seseorang untuk melakukan pengecekan kembali melalui Internet. Alhasil, otak menjadi malas 'bekerja' untuk mengingat sesuatu. Kepercayaan manusia secara berlebih terhadap Internet ini juga malah menimbulkan suatu 'penyakit baru' yang disebut amnesia digital. seseorang malas mengingat sesuatu karena merasa segala sesuatu sudah tersimpan dalam perangkat elektronik. Sebagai contoh anak- anak sekolah tida perlu lagi mengingat table periodik beserta singkatannya karena sudah tersedia di google. Contoh lainnya yaitu kini orang tidak perlu lagi menghafal tanggal ulang tahun teman-teman karena sudah ada di kalender ponsel.
Dampak lainnya penggunaan media social yaitu kebanyakan para remaja bila sudah menggunakan media sosial tidak mengetahui waktu, mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggunakannya. Hal tersebut menyebabkan waktu yang dimiliki para remaja lebih banyak tersita untuk bermain di media social. Waktu yang seharusnya dimanfaatkan dengan baik menjadi terbuang secara percuma atau sia-sia karena lebih banyak digunakan untuk bermain di social media daripada di manfaatkan dalam dunia nyata. Sebuah riset menemukan bahwa penggunaan media sosial di kalangan remaja meningkat dari rata-rata 1-2 jam sehari antara tahun 2006-2016. "Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, remaja di tahun 2010-an menghabiskan lebih banyak waktu online dan lebih sedikit waktu dengan media tradisional, seperti buku, majalah dan televisi," ujar peneliti utama Dr Jean Twenge dari San Diego State University. Twenge menambahkan, media digital telah menggantikan waktu yang biasanya dihabiskan dengan membaca buku atau menonton TV. Para peneliti lantas mengungkapkan kekhawatiran menurunnya angka membaca di kalangan remaja akan memengaruhi performa mereka di sekolah, karena kurangnya konsentrasi mereka untuk memahami buku teks.
Media sosial tidak akan terlepas dari pengaruh positif maupun negatifnya, dampak itu tergantung dari sisi penggunanya sendiri. Walaupun masa remaja merupakan masa yang dapat dikatakan sangat kritis karena memasuki masa pencarian transisi pencarian jati diri. Namun remaja juga bisa membatasi diri sendiri dengan norma dan moral yang baik. Pembentukan karakter sejak dini termasuk saat remaja sangatlah penting bagi masa depan diri remaja itu sendiri dan lebih luas lagi bagi masa depan bangsa. Remaja sebagai penerus bangsa yang memiliki karakter yang baik, kuat, dan tangguh tentunya akan bisa membuat negara ini maju.
Komentar
Posting Komentar